Jumat, 06 November 2009

The 4th Manglayang Journey

Kamis, 8 Oktober 2009

Pagi ini lumayan bisa bangun pagi, karena Mehfta harus nganterin Ibu Heni ke Cibeusi, aku dimintai tolong untuk membereskan TK bersama Kang Dinar (karena biasanya aku jarang bersihin sepagi ni, karena sering ngantuk banget kurang tidur/malas aja kali yak). Aku jawab memang kewajibanku seharusnya. Wah, ini juga harus diperbaiki.

Pagi ini Mehfta sms ngajakin naik gunung Manglayang. Setelah aku kuliah sampai siang di Bandung, dan setelah kuliah bareng Mehfta di Jatinangor hingga Ashar, kita berangkat. Dan sebelum kuliah enviro besok jam delapan sudah di kampus.

Ga tau dia kesambet hantu dari mana tiba-tiba ngajakin, tapi aku juga memang ingin berpetualang lagi, langsung aja aku setuju. Ia bilang ia bawa carier satu, kalau misalnya gagal karena hujan nanti tinggal di bawa pulang saja.

Kelar HPWI di Bandung harusnya kuliah Keamanan Global di Jatinangor jam 1, sedangkan sekarang jam 1 kurang seperempat, ga mungkin terkejar karena tidak naik motor (motor ditinggal di Jakarta, STNK dibawa teman). Jadi ke tempat Handy balikin motor yang kupinjam kemarin, pinjam senter, terus minta diantarkan ke Pangdam (Pangkalan Damri) depan Unpad DU, kemudian naik bis

Sms Fly selamat tidur dulu karena mungkin malam ini baterai habis di puncak. Semoga ia dalam keadaan yang baik-baik saja. Amiiin.

Alhamdulillah dapat bus ac dan lumayan kosong perjalanan pun cepat. Tidur sebentar dan sedikit baca sejarah ekonomi dunia. Berita dari Mehfta mata kuliah PHI 2 juga tidak datang dosennya.

Sampai di kampus jatinangor jam 3-an, terus ngecash hp karena di jalan baterai habis, dan sms Mehfta. Ternyata ia sedang di jalan mau ngambil tas carier yang dititipkan, dan balik lagi jemput aku di lantai 3 gedung FISIP Jatinangor.

Kemudian kita makan dulu di POMA, ketemu Andriarto, Vindi, Randy, dan Douglas. Mereka akan membahas tentang tugas enviro besok. Aku belum dapat kelompok tapi tetap nanya tugas ke mereka.

Setelahnya kita ambil tas kerir yang Mehfta titip ke burjo, sebelumnya nitip laptop di temannya Mehfta, dan kita solat Ashar dulu. Kemudian berangkat ke titik awal pendakian, batu kuda, tempat wisata gitu. Jika dari arah Bandung setelah pertigaan Cibiru, maka di sebelah kanan cukup jelas ada plang "Batu Kuda" beserta anak panahnya ke arah kiri. Dari jalan raya menuju Batu Kuda ada sekitar 10 km, sehingga cukup mendekati puncak, dan cukup satu setengah jam (kondisi baik) untuk mencapai puncak.

Tapi perjalanan kali ini kami tidak merencanakan ke puncak utama, karena sudah cukup sering, dan suasananya yang rimbun di puncak (tidak terlihat pemandangan kota karena banyak pohon besar), kali ini kami berniat ke Puncak Timur/Puncak Prisma/Puncak Segitiga sebelah Timur Gunung Manglayang. Untuk mencapainya bisa lewat jalur biasa (melewati puncak utama terlebih dahulu) atau jalur alternatif. Kami memilih jalur alternatif yang sangat menantang dan menyenangkan.

Sebelumnya ke Batu Kuda kami isi bensin, beli snack, beli solar (untuk bakaran di puncak karena minyak tanah sudah tidak ada yang jual), sama isi angin ban (Mehfta tidak yakin kalau-kalau nanti bocor halus dan besok harus mendorong motor pulang sejauh 10 km!).

Perjalanan menuju batu kuda cukup terjal, sehingga dengan motor Bebek 100 cc jika kurang mengambil ancang-ancang, kadang satu orang harus turun untuk mengurangi beban motor.

Sampai titik awal pendakian, Bayar masuk wisata batu kuda Rp. 5000 per orang (untuk camping, kalau hanya hiking Rp. 3000,-), terus parkir dan bersiap sebentar kita berangkat jalan kaki. Karena sudah pernah mendaki sebelumnya dan cukup tahu jalur, tidak khawatir berangkat sesore ini. Dan medan yang akan kita lewati (jalur alternatif menuju Puncak Timur) adalah cukup berat. Batu cadas, dengan tingkat kemiringan mungkin kurang sedikit dari 90 derajat, setinggi 4 meter berulang tiga kali. Dengan kiri kanan jurang, hal ini sangat menantang sebenarnya. Untuk pemula sangat dianjurkan membawa webbing.

Awal pendakian jalan tidak berat, setelah pos sadawana, belok ke kiri (ada tulisan di pohon) adalah jalur umum menuju puncak utama, karena tujuan kita hanya puncak timur, kita lurus saja kemudian belok ke kanan. Jalur alternatif ini untuk pendaki yang baru pertama kali, menurut petugas Sadawana (Pencinta Alam kaki Gunung Manglayang) tidak disarankan jika malam hari, karena ada kemungkinan adanya ular derik, dan kurangnya tingkat visibilitas.

Setelah belok kanan jalan menurun sedikit, ada lembah dengan sungai kecil di bawahnya, kita melewati jembatan kemudian berbelok ke kiri, ke kanan mungkin jalur menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung. Dari sini jalur menanjak sudah lumayan tinggi, tapi kiri-kanan hanya bekas petak-petak ladang yang tidak digunakan lagi. Kadang kami mengeluhkan kurangnya olahraga sehingga cukup kehabisan nafas.

Akhir petak ladang ini, kita bertemu lagi lembah di sebelah kiri dan ada saung pohon yang cukup tinggi. Di sini terdapat pertigaan, kita ambil ke kanan (pengalaman sebelumnya kita turun dari puncak timur melalui jalur ini), jalur ke kiri juga ke arah atas, kemungkinan juga bertemu dengan jalur yang sama. Dari sini medan lebih berat lagi dan kiri-kanan pohon-pohon sudah tinggi. Jalan sangat licin karena habis hujan, sehingga sering merosot. 30 menit perjalanan dari bawah akhirnya kita sampai ke kaki tebing yang akan kita daki ini. Adzan mahgrib sudah berkumandang.

Setelah istirahat sebentar, kita mulai pendakian paling menantang ini. Mehfta berangkat duluan, tanpa penerangan (karena kalau disenter dari bawah bikin silau), ia bilang lumayan banyak pegangan tapi kecil-kecil, ia berhasil sampai di atas di tebing pertama ini, aku juga naik. Suasana sudah mulai remang, tinggal sisa sinar kebiruan matahari yang sudah tenggelam. Ternyata naiknya tidak terlalu sulit seperti ketika turun yang lalu. Tebing kedua dan ketiga, lebih miring jadi tidak masalah. Dari sini merupakan tebing yang menonjol keluar, sehingga tidak ada apapun yang membatasi penglihatan ke pemandangan kota menjelang malam hari. Cahaya berkerlap-kerlip ramai. Sungguh indah, ditambah tantangan menjadi sangat menyenangkan, mungkin kalau sahabat pendakiku ini bilang, "bikin horny".

Sampai di atas, tak lama kemudian adzan Isya. Kabut hilir mudik, dan keraguan karena mendung, tapi ternyata tidak hujan. Setelah sholat, Bongkar isi tas ternyata tiang untuk tenda tidak terbawa, hahaha… seru, jadi saja sebagai rencana darurat tenda kita jadikan selimut bukan tempat tinggal. Kemudian masak mie dan kopi dan melewatkan malam dengan mengobrol macam-macam, agama, wanita, hingga makhluk halus. Wah-wah-wah, Mehfta bilang dia tidak takut semisalkan ada jin yang mengajak berdiskusi bersama pada saat ini. Asal ada temannya juga.

Jumat, 09 Oktober 2009

Bangun tiba-tiba masih dini hari ketika itu. Suasana sangat terang karena cahaya bulan. Tenda bagian luar sudah lumayan basah karena embun, lumayan dingin. Aku tidak bisa tidur selama 15 menit, pusing-pusing maka bangun saja menikmati malam dan cahaya kota. Dingin sekali. Tak lama Mehfta bangun, tampaknya memang sudah bangun sih sebelumnya, hanya belum berdiri saja, selalu begitu J.

Kemudian kita memutuskan untuk membuat api, masih ada solar tersisa. Kita mengumpulkan batang dan ranting-ranting meskipun lumayan basah. Ternyata efeknya sangat terasa, daerah sekitar api menjadi hangat dan nyaman. Jika pergi dua meter saja akan terasa kembali dingin yang mengigit. Tapi sayang solar kurang mencukupi, sehingga sisanya harus berjuang meniup-niup bara yang hidup mati.

Menjelang subuh api sudah mati. Mulai tampak kemerahan di ufuk timur, aku memutuskan tidur sekitar 10 menit, sedangkan Mehfta memutuskan menunggu fajar, berdiri dengan menghisap batangan tembakau berselimut kertas, ia bilang garis kemerahan memanjang akan sangat indah. Setelah bangun mata lebih segar, dan terlihat gunung Ceremai (atau entah Cikurai) di kejauhan. Perlahan matahari terbit hingga bulat utuh. Subhanallah, menakjubkan.

Pukul enam seperempat matahari sudah cukup tinggi, kami memutuskan membereskan barang-barang. Perjalanan turun tentu saja lewat tebing yang kemarin lagi, seru! Sebenarnya lewat jalan memutar dengan trek yang cukup mudah bisa saja melalui puncak utama, tapi terlalu lama dan kurung seru kali ya.

Perjalanan turun sebelum tebing bertingkat ini biasa saja, sampai di tebing mulai melepas sepatu, aku duluan kali ini. Tebing pertama dan kedua (dari atas) tidak terlalu sulit. Nah, tebing ketiga, terakhir, dan yang paling curam inilah badan tidak dapat diajak kerjasama. Mental sudah cukup berani, aku memerintahkan supaya kakiku berhenti bergetar. Ia bergetar lumayan hebat, mungkin tubuhku memperingatkan akan bahaya, tapi ia tidak mau menurut perintah otak. Aku bergantung pada kekuatan tangan untuk turun. Syukurlah sampai bawah tebing dengan selamat. Tinggal Mehfta, dia membuka baju, sayang ga bawa kamera, hp baterainya habis. hahaha… siapapun yang foto di sini pasti keren dah. Terlihat kakinya pun nggak nurut, tapi berhasil dan kelihatan mudah saja. Sesampainya di bawah terselip ada kepuasan tersendiri.

Perjalanan setelah tebing licin sekali, selalu merosot-merosot saja, tapi seru juga kayak prosotan. Bisa sering meluncur sekitar 10 m, cukup menyenangkan. Sepatuku robek, dan ketika turun Mehfta juga beberapa kali kehilangan keseimbangan, karena tanah yang licin. Ia lebih sering memilih berpijak dengan jalan berdiri, kakiku sulit untuk berjalan biasa karena pengaruh gemetar di tebing tadi, jadi jalan pun kadang tidak setabil gemetar sendiri, hehehe… jadi jongkok saja sambil serodotan kata orang Sunda.

Sampai di batu kuda, aku boker dulu, Mehfta main ayunan. Kemudian kita berangkat setelah bayar jasa parkir Rp4000,- karena kebetulan penjaganya lewat mau ke gunung, padahal lagi sepi banget! Coba selisih 5 menit saja, Hahaha… gapapa lah amal.

Kemudian kita berangkat ke kampus untuk kuliah enviro, lewat jalur turun yang berbeda dari Batu Kuda ke Jalan Raya, jadi kita keluar di jl. Percobaan. Sampai kampus sudah masuk, dan tersisa sedikit waktu untuk mengerjakan kuis sebelum kuliah dimulai. Jam 8 lebih ketika itu.

Kuliah lumayan mengasyikkan, aku suka dosennya. Ia tegas tapi baik, di samping itu lumayan cantik dipandang, halah...

Mehfta terlihat berjuang melawan kantuk di belakang.

Kamipun pulang.

1 komentar:

  1. hahahaha.. seruuuuuu.....!!!!!!!
    ke tebing ini lagi, kita udah bawa SLRnya Mila!!.. horeeeee....

    eh waktu nitip laptop di Friska, smoga aja waktu itu dy gak buka2 isi tas.. hohoho..
    malu!!!

    BalasHapus